Kamis, 04 September 2014

Jepang Kebingungan Membuat Sertifikasi Makanan Halal

Dinas Pariwisata Jepang kini merasa kebingungan dengan semakin
banyaknya wisatawan muslim hadir di Jepang. Bukan karena jumlah
wisatawan, tetapi persiapan menghadapi kedatangan kalangan muslim ini
terutama mengenai makanan halal yang ternyata tidak ada standar
internasional untuk makanan halal sehingga memusingkan mereka. Padahal
Jepang adalah negara standar sertifikasi yang berusaha membuat
ketentuan standar secara adil untuk kepentingan bersama.

"Benar sekali kami kepusingan saat ini karena bingung bagaimana
membuat standar halal, sementara di berbagai negara memiliki
sertifikat halal sendiri-sendiri, tak ada sertifikat halal
internasional yang berlaku bagi semua negara," papar sumber
Tribunnews.com, Jumat (5/9/2014) pagi.

Diakuinya memang saat ini ada NPO (Yayasan) Asosiasi halal Jepang, ada
pula asosiasi Muslim Jepang, gerakan "Muslim-friendly" ada pula
"Muslim Wellcome" dan berbagai kelompok muslim, tetapi tak ada yang
memiliki standar untuk sebuah sertifikat halal.

"Kami juga tahu misalnya ada sertifikat halal di Malaysia dan ada
sertifikat halal di Indonesia, yang satu sama lain tak bisa digunakan
secara resmi di kedua negara tersebut karena mungkin memiliki
perbedaan pandangan atau persyaratan. Itu baru dua negara, bagaimana
dengan negara-negara di Timur Tengah dan sebagainya? Jadi terus terang
kami bingung saat ini," ungkapnya.

Meskipun demikian pihak pariwisata Jepang tidak berhenti sampai kepada
kebingungan. Mereka telah memulai survei dengan bantuan berbagai pihak
sampai dengan Maret 2015 untuk melihat di lapangan, di masyarakat dan
pada akhirnya merumuskan standar halal yang mungkin mendekati
persyaratan kalangan muslim dunia.

Sementara itu Raymond Hitomi (36) dari Asosiasi Halal Jepang
mengatakan bahwa sebenarnya saat ini jangan dulu menekankan kepada
sertifikat halal.

"Banyak lembaga membuat sertifikasi di Jepang. Sebaiknya jangan
dimulai dari soal sertifikasi tetapi kita perlu melihat dulu sistem
otentikasi secara keseluruhan dari Jepang. Hal ini penting dari
situasi saat ini. Kalau tidak demikian ditakurkan dapat menyebabkan
penurunan kepercayaan dari masyarakat," katanya.

Oleh karena itu Dinas Pariwisata Jepang akan menyelidiki mekanisme
otentikasi dan jumlah lembaga sertifikasi saat ini sampai dengan Maret
tahun depan.

"Pengumpulan informasi untuk memperbaiki lingkungan pariwisata,"
tambah sumber itu lagi.

Oleh karena itu saat ini pihak pemerintah Jepang akan lebih memusatkan
perhatian kepada berbagai upaya dasar terlebih dulu seperti
memperdalam pemahaman tentang koki halal, makanan dan minuman halal
dan mekanisme lain.

Selanjutnya sumber itu pun mengatakan bahwa wisatawan muslim yang
datang ke Jepang menjadi agak berubah, menyesuaikan dirinya dengan
situasi kondisi yang ada di Jepang. Misalnya soal minuman alkohol yang
dilarang Islam. Di Jepang karena negeri minuman alkohol, tidak sedikit
yang minum alkohol seperti sake yang jelas itu mengandung alkohol.

"Jadi terus terang bingung juga saya," katanya.

Sumber tribunnews.com





JASA PENGHULU NIKAH SIRI DI JAKARTA

PROSES MUDAH

Biaya Rp 2 juta. Sudah termasuk biaya-biaya untuk para saksi dan wali hakim.

Alamat: Jalan Dr Saharjo gang Barkah No 32 Rt 002 Rw 005 kelurahan
Manggarai Selatan kecamatan Tebet, Jakarta Selatan (lokasi rumah
persis di samping masjid Al Barkah Assyafiiah).

Call/sms: 0878-7805-3330 (Ustad Aulia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar